8 Desember 2009

Laporan Praktikum “Pengecatan Mikroba”

Posted in Mikrobiologi Umum pada 19:27 oleh Andi Rezki Ferawati Yusuf

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bakteri merupakan organisme yang sangat kecil (berukuran mikrskopis). Bakteri rata-rata berukuran lebar 0,5-1 mikron dan panjang hingga 10 mikron (1 mikron = 10-3mm). Itu berarti pula bahwa jasad renik ini tipis sekali sehingga tembus cahaya. Akibatnya pada mikroskop tidak tampak jelas dan sukar untuk melihat bagian-bagiannya. Untuk melihat bakteri dengan jelas, tubuhnya perlu diisi dengan zat warna, pewarnaan ini disebut pengecatan bakteri.
Salah satu klasifikasi bakteri adalah pembagian menurut morfologi sel dan sifat pewarnaan. Morfologis sel bisa dilihat di bawah mikroskop cahaya, yang akan lebih mudah diidentifikasi pada preparat yang diwarnai. Dengan melihat sifat pewarnaan satu bakteri, juga dapat dibedakan antara bakteri yang gram positif, gram negatif, atau basil tahan asam.
Oleh karena itu, diadakanlah praktikum ini guna memberi pemahaman dan memberi pengetahuan kepada kita tentang pengecatan bakteri.

B. Tujuan
Adapun tujuan pelaksanaan praktikum ini yaitu untuk dapat membedakan antara bakteri gram positif dengan bakteri gram negatif melalui pengecatan sederhana, pengecatan gram dan pengecatan negatif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bakteri dapat diperoleh dari mana-mana, misal dari rongga mulut, dari sela-sela gigi, dari tanah yang banyak sampah-sampah, dari sisa-sisa makanan yang sudah basi. Biasanya kita mengadakan pemiaraan dulu di dalam cawan petri yang berisi zat makanan atau medium. Asalkan medium itu dibiarkan begitu saja terbuka, maka sehabis 24 jam akan kita dapati berpuluh-puluh koloni bakteri dan jamur (cendawan) menutup permukaan medium tersebut.
Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniseluler, termasuk klas Schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofil kecuali beberapa yang bersifat fotosintetik.
Cara hidup bakteri ada yang hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam tanah, atmosfer (sampai ± 10 km di atas bumi), di dalam lumpur, dan di laut.
Bakteri memiliki beberapa bentuk yaitu basil (tongkat), kokus, dan spirilum. Bakteri yang berbentuk tongkat maupun kokus dibagi menjadi beberapa macam. Pada bentuk basil pembagiannya yaitu basil tunggal, diplobasil, dan tripobasil. Sedangkan pada kokus dibagi monokokus (satu buah bakteri berbentuk kotak), diplococcus, sampai staphylococcus (bentuknya mirip buah anggur. Khusus pada spirul hanya dibagi 2 yaitu setengah melengkung dan tidak melengkung.
Kebanyakan sel bakteri tidak berwarna, sehingga jika dilarutkan dalam air dan diperlihatkan di bawah mikroskop tidak memperlihatkan warna kontras dengan medium di sekelilingnya. Beberapa zat yang digunakan untuk mengamati struktur bagian dalam sel. Dalam pewarnaan mikroba, dapat digunakan satu jenis warna, cara ini disebut pewarnaan sederhana. Zat-zat warna yang biasa digunakan untuk pewarnaan bekteri dapat dibedakan atas beberapa golongan yaitu: pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial, pewarnaan strukturan dan pewarnaan untuk menguji adanya komponen tertentu di dalam sel (Anonim, 2007).
Dua metode utama pengecatan yang umum digunakan di laboratorium yaitu pengecatan sederhana dan pengecatan diferensial. Pengecatan sederhana hanya menggunakan satu jenis warna saja. Sedangkan pengecatan diferensial menggunakan lebih dari satu zat warna sehingga dapat dibedakan antara bagian-bagian sel atau tipe-tipe sel. Sebelum kita membahas mengenai pengecatan mikrobia, maka perlu diketahui sifat senyawa yang digunakan untuk mengecat mikrobia tersebut.
Pada umumnya, larutan-larutan zat warna yang digunakan adalah larutan encer, jarang lebih dari 1 persen. Larutan encer yang dibiarkan berkontak agak lama dengan bakteri bekerja lebih baik dari larutan pekat dengan waktu yang singkat.
Untuk mendapatkan hasil pengecatan yang lebih baik, tidak jarang diperlukan bahan penolong, yang biasanya disebut pemantek (mordant). Pemntek ini dapat diartikan sebagai suatu zat yang sanggup bergabung dengan komponen zat warna tertentu, sehingga terbentuk senyawa yang tidak dapat larut dan melekat pada tubuh bakteri. Pemantek dapat diberikan dalam berbagai keadaan yaitu sebagai berikut.
1. Sebelum penambahan bahan cat,
2. Dimasukkan ke dalam larutan bahan cat, dan
3. Diberikan antara pemakaian dua larutan bahan cat.
Zat warna adalah senyawa kimia berupa garam-garam yang salah satu ionnya berwarna. Garam terdiri dari ion bermuatan positif dan ion bermuatan negatif. Senyawa-senyawa kimia ini berguna untuk membedakan bakteri-bakteri karena reaksinya dengan sel bakeri akan memberikan warna berbeda. Perbedaan inilah yang digunakan sebagai dasar pewarnaan bakteri. Sel-sel warna dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu asam dan basa. Jika warna terletak pada muatan positif dari zat warna, maka disebut zat warna basa. Jika warna terdapat pada ion negatif, maka disebut zat warna asam. Contoh zat warna basa adalah methylen blue, safranin, netral red, dan lain-lain.
Cat asam merupakan anionik, berarti pada ionisasi pewarna bagian kromofor yang menunjukkan muatan negatif sehingga mempunyai afinitas yang kuat untuk unsur positif sel. Protein memberi muatan positif pada kmponen sel, akan berikatan dengan dan menerima warna yang bermuatan negatif, anionik, kromogen dari suatu pewarna negatif. Secara struktur asam pikrat merupakan contoh dari suatu pewarna asam yang menghasilkan kromogen anionik.
Cat basa merupakan kationik, karena ionisasi bagian kromgen menunjukkan muatan positif sehinggga mempunyai afinitas yang kuat untuk unsur negatif sel. Asam nukleat bermuatan negatif, komponen seluler akan mengikatdan menerima warna yang bermuatan positif, kationik dari pewarna basa. Secara struktural, Metilen biru adalah suatu pewarna basa yang menghasilkan kromogen kationik.

Cara-cara pengecatan yaitu sebagai berikut:
a. Pengecatan negatif
Merupakan cara pengecatan yang tidak langsung, yaitu hanya mengecat latar belakang dari mikroba tersebut berada sedangkan mikroba/bakteri sendiri tidak mengalami pengecatan. Oleh karena itu pengecatan ini pada umumnya tidak dilakukan fiksasi, maka pengecatan ini berguna untuk pengukuran sel. Hasil pengecatan ini Akan nampak transparan.
b. Pengecatan sederhana
Merupakan pengecatan yang menggunakan suatu jenis zat warna. Zat-zat warna yang biasanya digunakan adalah Methylen Blue, Basic Fuchsin atau Crystal Violet. Zat-zat warna tersebut bekerja dengan sangat baik dalam mewarnai bkteri karena zat warna tersebut mengandung gugus fungsionil yang dapat membentuk warna (khromofor) dan bermuatan positif. Oleh karena sel-sel bakteri pada umumnya negatif, maka sel-sel dapat mengikat khromofor. Zat warna demikian disebut zat warna biasa. Sedangkan zat yang mengandung khromofor dan bermuatan negatif (zat warna asam) tidak digunakan untuk mewarnai bakteri karena tidak dapat diikat oleh sel-sel bakteri
c. Pengecatan gram
Pada tahun 1884, Chrystian Gram menemukan cara bahwa bakteri dapat dibedakan atas dua kelmpok utama, yaitu bakteri yang dapat mengikat cat utama dengan kuat sehingga tidak apat dilunturkan oleh zat peluntur, disebut Bakteri Gram Positif. Sedangkan yang tidak dapat mengikat zat utama setelah diberi zat peluntur dan dapat diwarnai dengan cat penutup (counter stain) disebut Bakteri Gram Negatif. Hal ini terutama ditentukan oleh sifat fisik dan kimia dinding sel dan membran sitoplasmanya. Dinding sel dan membran sitoplasma bakteri gram posistif mempunyi afinitas yang besar terhadap kompleks cat kristal violet dan iodium sedangkan bakteri gram negatif afinitasnya kecil.
d. Pengecatan endospora/spora
Beberapa spesies bakteri memproduksi suatu struktur di dalam sel yang disebut endospora. Bakteri yang memproduksi endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang ekstrim misalnya keadaan kering, panas, atau adanya bahan kimia beracun.
Spora juga tahan terhadap pengecatan dan sekali dicat mak spora sangat susah melepaskan zat warna, sehingga tidak dapat menerima zat warna lainnya yang diberikan (counter stain). Sedangkan sel vegetatifnya dapat dengan mudah dicat dengan cat sederhana, sehingga hasil pengecatan dapat dibedakan antara sel vegetatif dan endospora/spora.

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini yaitu diadakan pada:
Hari/tanggal : Kamis/03 Desember 2009
Waktu : Pukul 15.00 s.d. 17.00 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Gedung B Lt. III
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Alauddin Makassar, Samata Gowa.

B. Alat dan Bahan
1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu mikroskop, kaca preparat, kaca penutup, bunsen, pipet tetes, ose, handsprayer, dan botol semprot
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu larutan Nigrosin, biakan Escerchia coli, biakan Staphylococcus aureus, larutan Methylen Blue, larutan Buckers Crystal Violet (Gram A), alkohol 70%, air suling, larutan Mordan Lugol’s Iodium (Gram B), larutan Aceton (Gram C), larutan Safranin (Gram D), dan tissue.

C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dari percobaan ini adalah :
1. Pengecatan Negatif
a. Membersihkan gelas objek dengan alkohol 70% agar bebas lemak.
b. Mengambil satu ose biakan E. coli dan S. aureus dan meletakkannya pada ujung objek gelas, lalu mengecat dengan 1-2 tetes nigrosin, kemudian mencampur merata dengan ose.
c. Dengan menggunakan gelas objek lain, menyentuhkan sisi objek gelas tersebut pada sampel hingga membentuk sudut 45°. Selanjutnya menarik objek gelas ke arah yang berlawanan sehingga membentuk lapisan tipis.
d. Membiarkan mengering di udara, lalu mengamati di bawah mikroskop. Menggambar dan mencatat hasil pengamatan.
2. Pengecatan Sederhana
a. Membersihkan gelas objek dengan alkohol 70% agar bebas lemak.
b. Mengambil secara aseptis 1 ose suspensi bakteri dan meratakannya di atas gelas objek seluas 1 cm2.
c. Membiarkan mengering di udara, lalu memfiksasi di atas api spritus.
d. Menetesi dengan Methylen Blue atau Crystal Violet 1-2 tetes.
e. Membirkan selama 2 menit, lalu memcuci dengan air mengalir sampai sisa-sisa cat tercuci seluruhnya.
f. Mengeringkan di udara dan mengamati hasilnya dengan perbesaran kecil hingga besar dan menggambar preparatnya.
3. Pengecatan Gram
a. Membersihkan gelas objek dengan alkohol 70% agar bebas lemak.
b. Mengambil secara aseptis 1 ose suspensi bakteri dan meratakannya di atas gelas objek seluas 1 cm2.
c. Membiarkan mengering di udara, lalu memfiksasi di atas api spritus.
d. Meneteskan larutan Gram A sebanyak 2-3 tetes dan membiarkan selama 2 menit.
e. Mencuci dengan air mengalir, mengeringkan dengan tissue dengan hati-hati.
f. Meneteskan larutan Gram B, membiarkan selama 1-2 menit.
g. Mencuci dengan air mengalir, kemudian mengeringkan
h. Meneteskan larutan Gram C, membiarkan selama 30 detik.
i. Mencuci dengan air mengalir, kemudian mengeringkan
j. Meneteskan larutan Gram D sebanyak 2-3 tetes dan membiarkan selama 1 menit, mencuci dengan air mengalir, membiarkan mengering.
k. Mengamati di bawah mikroskop, menggambar preparat tersebut dan mencatat hasil pengamatan.

B. Pembahasan
1. Pengecatan Negatif
Perlakuan ini bertujuan untuk melihat dan mengamati morfologi berupa warna preparat, bakteri, bentuk serta ukuran nakteri yang sangat kecil. Dalam metode ini, latar belakang preparat yang diwarnai, sedangkan bakterinya tidak berwarna/transparan. Pewarna yang digunakan adalah nigrosin yang bersifat asam dan berwarna biru.
Pada pengecatan ini, kita menggunakan bakteri Escerchia coli dan Staphylococcus aureus dan diamati di bawah mikroskop, terlihat bahwa sel bakteri Escerchia coli dan Staphylococcus aureus berbentuk bulat (coccus) yang tidak menghasilkan warna/transparan. Sedangkan latar belakang preparat berwarna biru.
Karena pewarna yang digunakan adalah nigrosin yang bersifat asam dan berwarna ungu, sedangkan diketahui bahwa protoplasma bakteri yang digunakan mengandung banyak asam nukleat sehingga pada saat bakteri diberi pewarna asam yang bermuatan negatif, mengakibatkan terjadinya tolak menolak dengan dinding sel yang juga bermuatan negatif.
2. Pengecatan Sederhana
Pengecatan sederhana adalah pengecatan pada bakteri atau mikroba lain yang hanya menggunakan satu jenis pewarna pada suatu olesan yang telah difiksasi. Pengecatan ini bertujuan untuk mewarnai suatu jenis sel bakteri sesuai dengan pewarna yang digunakan sedangkan latar belakang preparat tidak diwarnai.
Pada pengecatan ini menggunakan bakteri Escerchia coli dan Staphylococcus aureus dan diamati di bawah mikroskop, terlihat bahwa setelah diteteskan Methylen Blue, sel bakteri Escerchia coli tidak berwarna sedangkan sel bakteri Staphylococcus aureus berwarna biru. Pada pengecatan ini dilakukan proses fiksasi yang bertujuan untuk mengkerutnya globula protein sel, merubah afinitas cat, mencegah terjadinya autolisis cat, membunuh bakteri dengan cepat tanpa merubah bentuk dan struktur, melekatkan bakteri di atas gelas benda serta membuat sel lebih kuat.
3. Pengecatan Gram
Pengecatan gram adalah suatu teknik pengecatan yang menghasilkan perbedaan di antara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba. Pengecatan gram termasuk pengecatan diferensial karena dapat membedakan bakteri-bakteri gram positif dan gram negatif. Pada pengecatan ini menggunakan lebih dari satu pewarna. Pada pengecatan ini juga dilakukan fiksasi yang salah satu fungsinya untuk membunuh bakteri, tanpa merusak bentuk semula dan struktur dasar dari bakteri tersebut yang difiksasi.
Bakteri gram positif akan menghasilkan warna ungu karena terbentuknya kompleks Crystal Violet Iodium yang berwarna ungu. Selain itu karena bakteri gram positif ini juga mampu mengikat cat utama (Crystal Violet) dengan kuat sehingga tidak dapat dilunturkan oleh zat peluntur. Pada bakteri gram positif memiliki peptidoglikan yang lebih banyak dan kandungan lipid yang labih sedikit sehingga tidak mudah larut karena memiliki pori-pori kecil menyebabkan Gram A tidak mampu keluar dari dinding sel.
Bakteri gram negatif menghasilkan warna merah karena bakteri ini memiliki daya ikat cat utama yang lemah sehingga langsung mengikat cat penutup (larutan Safranin). Hal ini disebabkan karena dinding sel bakteri gram negatif banyak dan tipis, mengandung sedikit peptidoglikan sedangkan mengandung lipid yang banyak sehingga mudah larut karena pori-porinya membesar.
Pada pengecatan ini menggunakan bakteri Escerchia coli dan Staphylococcus aureus, dan pada hasil pengamatan diketahui bahwa Escerchia coli adalah salah satu bakteri yang tergolong bakteri gram negatif karena mengikat warna merah sedangkan Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri yang tergolong bakteri gram positif karena mengikat kuat cat utama dan tidak mengalami pelunturan pada saat pencucian dengan larutan gram C (Aceton).

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum maka dapat disimpulkan bahwa bakteri gram positif yaitu bakteri yang dapat mengikat cat utama (Crystal Violet) dengan kuat dan tidak dapat dilunturkan oleh zat peluntur, memiliki peptidoglikan yang lebih banyak dan kandungan lipid yang labih sedikit sehingga tidak mudah larut karena memiliki pori-pori kecil menyebabkan Gram A tidak mampu keluar dari dinding sel dan memiliki dinding sel tunggal dan tebal. Bakteri yang termasuk dalam bakteri gram positif yaitu Staphylococcus aureus.
Bakteri gram negatif adalah bakteri yang memiliki daya ikat cat utama yang lemah dan dapat luntur dengan mudah sehingga langsung mengikat cat penutup (larutan Safranin), dinding sel banyak dan tipis, mengandung sedikit peptidoglikan sedangkan mengandung lipid yang banyak sehingga mudah larut karena pori-porinya membesar. Bakteri yang termasuk dalam bakteri gram negatif yaitu Escerchia coli.

B. Saran
Adapun saran yang dapat diajukan pada praktikum ini yaitu keaktifan dalam praktikum sangat diperlukan serta praktikan harus memperhatikan arahan dari asisten agar praktikum dapat berjalan sesuai yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Alimuddin. Mikrobiologi Dasar Jilid 1; Makassar: State University of Makassar Press, 2005.

Chusnia, Wilda. “Pengecatan Mikroba”. http://wildablog.blogspot.com/2009/11/pengecatan-mikroba.html. (Diakses tanggal 05 Desember 2009).

Dwidjoseputro, D. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1998.

Fajrina, Rizqi. “Mikroum Pengecatan Gram”. http://qi206.wordpress.com/2008/10/17/mikroumpewarnaan-gram.html (Diakses tanggal 05 Desember 2009).

Hafsah. Bahan Ajar Mikrobiologi Umum. Makassar: Program Studi Biologi UIN Alauddin Makassar, 2009.

Irianto, Koes. Mikrobiologi Jilid 1. Bandung: Yrama Widya, 2006.

Junaidi, Wawan. “Pengecatan Gram pada Bakteri” http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/7/pengecatan-gram-pada-bakteri.html (Diakses tanggal 05 Desember 2009).

Mangarengi, Yusriani. Kumpulan Diktat Kuliah Mikrobiologi untuk Mahasiswa AKPER UIT Makassar; Makassar: Fakultas Keperawatan UIT Makassar, 2008.

Nurodin, Ade. “Pembuatan Preparat Bakteri dan Pewarnaan Tunggal”. http://adenurodin.blogsot.com/2009/11/pembuatan-preparat-bakteri-dan.html. (Diakses tanggal 05 Desember 2009).

Tim Dosen Mata Kuliah. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum; Makassar: Jurusan Biologi UIN Alauddin Makassar, 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: